Tutorial PHP, MySQL, Javascript dan lainnya

Pendidikan pada hakekatnya tidak dapat dipisahkan dengan kebudayaan. Suatu sistem pendidikan yang baik adalah sistem yang berakar dengan kultur masyarakatnya. Suatu sistem pendidikan tidak boleh tercabut dari akar budayanya sehingga dalam pendidikan yang mesti diterapkan di Indonesia pun harus mencari identitasnya. Tujuan pendidikan bukan hanya manusia yang terpelajar tetapi manusia yang berbudaya (educated and civilized human being).

Pendidikan adalah proses penyadaran untuk menjadikan manusia sebagai “manusia”. Ini memerlukan proses yang lama, kekonsistenan, kontinuitas dari berbagai pihak. Pendidikan bukanlah bak menanam “jagung” atau “padi” yang setiap 3 atau 6 bulan sekali diganti metode “penanamannya”.

Ketidakmampuan seorang lulusan, yang kini jumlahnya makin membengkak, sesungguhnya lebih dipengaruhi oleh buruknya proses belajar, yang digunakan selama ini. Cukup susah untuk mendefinisikan apa saja yang menjadi penyebab utamanya. Bahkan dalam sekolah kejuruan pun, yang notabene mempersiapkan siswa untuk bisa menerapkan ilmunya di masyarakat, terkadang memberikan pengajaran yang teramat sangat kurang untuk bisa digunakan siswa.

Terkadang, kurikulum dan penerapan pendidikan masih mengacu pada masa lalu yang sepertinya sudah tidak relevan lagi digunakan di masa sekarang. Masih banyak terlihat (dan dirasakan), proses belajar yang diterima, ada kekakuan cara mengajar. Guru masih terpaku pada buku panduan, tanpa melihat dan mempelajari apa yang seharusnya diterima dan dipelajari siswa di masa kini. Saat siswa akan mempraktekkan ilmu yang didapat, mereka hanya bisa terdiam, dan disibukkan dengan mencari referensi dan tutorial karena mereka tidak mendapatkannya di sekolah.

Kondisi sekarang adalah era globalisasi dimana negara tidak lagi dibatasi oleh dinding tertutup yang memungkinkan terjadinya persaingan bebas. Sehingga mengabaikan fakta, para alumni kita bisa menjadi pengemis dinegeri sendiri dihadapan sarjana negara-negara barat, jika tidak dipersiapkan sejak dini.

Dunia pendidikan juga terkadang tidak memikirkan dampak dari kebijakan-kebijakan diantaranya menggenjot siswanya dengan menambah jam-jam belajar, memberi beban PR tambahan, menerapkan disiplin tentara, atau memborbardir siswa dengan berbagai tes. Seharusnya, kebijakan dimulai dengan kualitas guru. Kebijakan yang tepat akan menjadikan profesi guru sendiri sebagai profesi yang sangat dihargai, meski gaji mereka tidaklah fantastis.

Guru yang berkualitas, mampu mendorong siswa untuk belajar/bekerja secara independen dengan berusaha mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Suasana sekolah dibuat santai dan fleksibel. Karena, adanya terlalu banyak komando hanya akan menghasilkan rasa tertekan, dan mengakibatkan suasana belajar menjadi tidak menyenangkan.

Para guru juga sebisa mungkin untuk menghindari kritik terhadap pekerjaan/ tugas siswa mereka. Jika kita mengatakan “Kamu salah” pada siswa, apalagi dihadapan kelas/teman-temannya, maka hal tersebut akan membuat siswa malu. Dan jika mereka malu maka ini akan menghambat mereka dalam belajar. Setiap siswa diperbolehkan melakukan kesalahan. Mereka hanya diminta membandingkan hasil mereka dengan nilai sebelumnya, dan tidak dengan siswa lainnya. Setiap siswa diharapkan agar bangga terhadap dirinya masing-masing. Upayakan menghindari perangkingan siswa yang berlebihan, karena ranking hanya membuat guru memfokuskan diri pada segelintir siswa tertentu yang dianggap terbaik di kelasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Anti-spam image